Hari sudah menjelang siang saat sesosok lelaki terduduk di balik meja, menulisi sesuatu dengan spidol berwarna hitam. Bersama setumpuk buku, dua buah papan terpampang berdampingan di atas meja kerjanya. Terlihat tulisan “Sekjur Pendidikan Sejarah” di papan pertama, dan terukir sebuah nama “Ketut Sedana Arta, S.Pd, M.Pd.” di papan berikutnya.
Berperawakan sedang dengan tinggi sekitar 170cm, wajah ramah dan senyum yang renyah. Begitulah kesan pertama yang didapat saat pertama kali melihat pria ini. Sedana, begitulah orang-orang biasa memanggilnya, seorang dosen muda berusia 35 tahun yang sudah menjabat sebagai sekretaris jurusan. Melihat karirnya yang cukup sukses, mungkin tidak banyak orang yang tahu bagaimana perjuangan hidupnya.
Mengingat masa lalu, mungkin membuat Sedana sangat mensyukuri hidupnya sekarang. Sedana terlahir di keluarga yang berlatar belakang kurang mampu. Sedana masih ingat keadaan rumahnya dulu yang berlantaikan tanah dan beratap ilalang, temboknya pun hanya terbuat dari bata yang belum dibakar. Namun, hidup dalam keterbatasan ekonomi tak lantas membuat Sedana berhenti bersekolah. Begitulah nilai yang selalu ditanamkan oleh sang kakak, seseorang yang menjadi sosok panutan Sedana. Sosok kakak bagi Sedana sekaligus seperti orang tua. Sang kakak selalu mengarahkan dan mendidik dirinya. “Cara mengatasi kemiskinan adalah dengan pendidikan,”Sedana mengulangi apa yang pernah dikatakan kakaknya padanya dulu. Oleh karena itu tak ada satu pun yang mampu menyurutkan semangatnya dalam menuntut ilmu, termasuk uang.
Berdua bersama adik terbungsunya, Sedana menjajakan lumpia keliling desa. Saat itu Sedana masih SMP. Saat masih di bangku SMA, Sedana muda yang tidak punya uang harus berjalan kaki untuk mencapai sekolah dari rumahnya di Penglatan. Untuk menghemat tenaganya, seringkali Sedana harus bergelantungan di bak truk sampah yang sering melewati sekolahnya. “Meskipun bau tapi yah…terpaksa, daripada jalan kaki,”kenangnya. Pernah Sedana dipulangkan oleh kepala sekolah lantaran SPP yang belum dibayar. Bahkan untuk membeli baju dan celana pun Sedana masih harus mencicil.
Sejarah, Sosiologi, dan Antropologi adalah mata pelajaran favorit Sedana. Jadilah Sedana melanjutkan studi perguruan tingginya di Ilmu Sejarah FKIP Universitas Udayana yang kemudian berubah nama menjadi STKIP Negeri Singaraja. Saat itu Sedana hanya menggantungkan biaya perkuliahannya pada beasiswa. “Karena tuntutan kegiatan kampus, sering saya mandi sembunyi-sembunyi di kampus,”sahutnya sambil terkekeh. “Dulu saya kurus sekali, kalau ditaruh uang logam seratusan di sini mungkin tidak akan jatuh,”kata Sedana sambil menunjuk tulang di lehernya dan tertawa. “Masih ada foto-foto waktu saya kuliah. Tapi kalau saya lihat sekarang, malu saya,”tambahnya dan langsung tertawa mengenang dirinya dulu.
Ada saat yang sangat membuat Sedana berada di puncak kegalauannya. Ketika itu ibu yang sangat disayangi dan dihormatinya terserang struk. Sebagian tubuhnya tidak bisa digerakkan. Betapa bingungnya Sedana saat itu, begitu banyak biaya yang diperlukan di tengah himpitan ekonomi. Namun, dalam keterbatasan fisiknya itu, sang ibu tetap melaksanakan tugasnya sebagai ibu-memasak-meskipun sebagian badannya harus menyeret bagian badan lainnya yang tidak bisa digerakkan. Semangat hidup sang ibu inilah yang menulari Sedana. Terbersit dalam benak Sedana, bagaimanapun sulit hidupnya saat itu, dirinya harus berhasil menamatkan kuliahnya.
Pria kelahiran 35 tahun silam ini mulai menerapkan ilmunya dengan menjadi guru bantu di SMPN 5 Singaraja sekaligus menjadi guru honorer di SMP LAB Undiksha. Sampai akhirnya Sedana dihadapkan pada 2 pilihan untuk memantapkan kariernya. “Waktu itu saya kebingungan, apakah saya harus memilih CPNS di Pemda yang sudah pasti akan diangkat, atau mengikuti seleksi sebagai dosen di Undiksha yang belum pasti terpilih,”tutur penggemar bakso ini.
Mungkin sudah menjadi suratan takdir, Sedana yang dengan berbagai pertimbangan memilih mengikuti seleksi dosen yang peluangnya sangat kecil itu berhasil menyingkirkan pesaing-pesaingnya. Tentu saja pencapaiannya itu harus melalui serangkaian tes, yaitu tes tulis dan tes mengajar. Berbekal pengalaman mengajar selama kurang lebih 6 tahun, tes yang diuji oleh petinggi-petinggi Undiksha terlewati dengan sukses.
Pengalaman mengajar boleh banyak. Namun, bagi bapak satu anak yang hobi hiking ini, mengajar di depan mahasiswa tidak sama seperti mengajar anak-anak SMP. “Kalau mengajar mahasiswa harus menguasai materi secara mendalam, selain itu juga harus menguasai IT,”katanya. Sedana tak enggan mengakui ada beban ketika 15 menit pertama membuka materi. “Keringatan, basah semua seperti keramas,” kelakarnya sembari menunjuk tengkuknya.
Siapa bilang yang muda tidak boleh memangku jabatan penting? Sedana buktinya. Di usianya yang 35 tahun, dosen muda bertitel S2 ini telah diberikan kepercayaan untuk menjabat sebagai sekretaris jurusan. Namun, bukan hidup namanya kalau tanpa pro-kontra. Saat Sedana naik jabatan sebagai sekjur, tidak sedikit rekan-rekannya yang merasa tidak puas. Sedana dianggap masih terlalu muda untuk memangku jabatan sepenting itu. Namun, tipikal pekerja seperti Sedana mensiasatinya dengan selalu berkoordinasi dengan rekan kerja dan bekerja sebaik-baiknya sehingga tidak ada lagi celah untuk kritik hingga perlahan-lahan rasa tidak puas itu akan tereduksi. “Tapi saya tetap menghormati mereka dan menganggap seperti orang tua sendiri, walaupun di belakang saya sering dikritik,”tuturnya.
Pekerjaan sebagai sekjur tidaklah ringan. Malah, seringkali tugas-tugas administrasi yang tak selesai di kampus harus dibawa pulang. Beruntung istrinya adalah seorang yang pengertian, yang mengerti akan tugas suaminya sebagai sekjur. “Kuncinya adalah keterbukaan dan komunikasi. Tidak hanya di rumah tangga, juga dalam pekerjaan,”tandasnya.
Syukur. Itulah hal yang dirasakan Sedana saat ini. Satu prinsip yang selalu dijunjungnya, bekerja dengan sebaik-baiknya berlandaskan kejujuran. “Kalau soal rejeki sudah diatur oleh yang di atas,”tutur pribadi sederhana ini. Dengan jerih payahnya, kini Sedana telah mampu membangun sebuah rumah yang jauh lebih layak dibanding rumahnya semasa kecil dulu. Mengabdikan jasanya untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, itulah wujud syukurnya kepada Tuhan.
Kisah masa lalu adalah sebuah sejarah. Sekelam apapun, sesulit apapun, sejarah menjadi bagian penting dari kehidupan sekarang. “Jadikan sejarah itu sebagai pelajaran dan pegangan hidup ke depan. Jangan pernah melupakan sejarah.,’tutup Sedana dengan senyum melengkung di wajahnya.
Kamis, 19 Januari 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar