Jumat, 10 Februari 2012

PGM Dulu, PGM Sekarang

Pekan Gema Matematika (PGM) merupakan kegiatan tahunan dalam program utama HMJ Pendidikan Matematika . Lalu, apa sih perbedaan PGM sekarang dengan PGM dulu?

Secara sederhana, PGM yang terdiri dari beberapa cabang ini diselenggarakan dengan dilandasi ekspektasi yang tinggi untuk menggemakan Jurusan Pendidikan Matematika Undiksha di Provinsi Bali bahkan di Indonesia. Pada awalnya, PGM perdana pada tahun 1992 hanya terdiri dari satu kegiatan saja, yaitu Gema Lomba Matematika (GLM). “Itupun dulu di daerah Singaraja aja,”tutur Ary Sujaya Putra, Ketua PGM 2011.
Konsep PGM pun terus berkembang sampai sekarang. Dengan berbagai inovasi setiap tahunnya PGM tumbuh menjadi empat kegiatan utama, yaitu Gema Lomba matematika (GLM), Gema Seminar matematika (GSM), Gema Pameran Matematika (GPM), Gema Kreasi/Keakraban Matematika (GKM). “Saya belum tahu juga sejak kapan PGM ini menjadi empat kegiatan, tapi format itu tetap dipertahankan sampai tahun lalu,”tambahnya.

Inovasi baru tidak terlepas dari hal-hal yang berbau nekat, seperti yang terjadi pada PGM 2011 lalu. GLM yang awalnya hanya untuk tiga tingkat yaitu SMA, SMP, SD, ditambahkan untuk SMK juga. Selain itu, GPM yang biasanya dilakukan indoor ditambahkan stand outdoor. GKMidak kalah seru dengan diundangnya bintang tamu, dan merombak beberapa acara yang cenderung membosankan, diganti dengan beberapa acara baru yg mendapat respon positif. “Yang paling besar adalah GSM dengan format seminar nasional,”kata Ary.

Sekilas, terlihat perbedaan antara PGM 2012 dengan PGM tahun-tahun sebelumnya, utamanya dalam komposisi kegiatan. “Kalau PGM tahun-tahun sebelumnya ya ada empat sub kegiatan yaitu GLM, GSM, GPM, dan GKM tetapi untuk pelaksaanaan pgm 2012 ada 3 sub kegiatan yanitu GLM, GEM (Gema Expo Matematika-red), GKM,”jelas I Gede Giriyasa, ketua PGM 2012.

Namanya juga Pekan Gema Matematika, kegiatannya berlangsung selama sepekan atau satu minggu, kecuali untuk kegiatan GKM yang pelaksanaannya bebrapa hari setelah kegiatan-kegiatan lainnya. PGM 2012 dilaksanakan pada bulan Maret mulai tanggal 3 sampai 10 Maret, dan khusus untuk GKM dilaksanakan pada tanggal 31 Maret 2012.

Entah bisa dikatakan inovasi atau tidak, seperti yang dituturkan Giriyasa, yang jelas kepanitian PGM 2012 mencoba untuk mengefisienkan beberapa kegiatan yang dalam perkembangannya tidak terlalu mendapat perhatian dari peserta, khususnya Gema Seminar, Nanti dulu, bukan berarti kegiatan itu tidak baik, akan tetapi dengan peminat yang jauh menurun, kegiatan seminar digabungkan dengan pameran dalam suatu expo agar kerja panitia lebih efektif,. “Nah, dengan diadakannya expo tidak serta merta kita menghilangkan dua kegiatan itu tetapi di dalam expo kita includkan dua kegiatan yaitu pameran dan workshop yang lebih ditekankan pada media pembelajran matematika,”jelas Giriyasa.

“Kita gak bisa kukuh untuk tetap menyelenggarakan PGM dg 4 kegiatan. Siapa tau nanti dengan inovasi kalian dan generasi selanjutnya bakal ada kegiatan tambahan lainnya...mungkin Gema Cyber Matematika... Hehehehehehe,”seloroh Ary

Hal paling penting dalam sebuah kegiatan PGM adalah koordinasi, saling menghormati, dan mengerti posisi masing-masing. Dalam PGM 2011 hal inilah yang kurang terwujud, begitulah yang dilontarkan Ary. Tak bisa dipungkiri, kegiatan PGM yang terdiri dari beberapa ketua dan satu ketua umum membuat setiap keputusan yang diambil harus benar-benar dibicarakan oleh semua ketua ini dan harus dipastikan keputusan yang diambil idak memberatkan salah satu kegiatan.

“Pada kesempatan ini juga saya ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan HMJ, serta melalui PGM 2012 mari kita tingkatkan kekeluargaan kita serta tumbuhkan semangat bahwa setiap kegiatan di HMJ bukan hanya milik dan tanggung jawab ketua panitia atau ketua HMJ tetapi itu adalah milik dan tanggung jawab kita semua. MATRIKS…JAYA!,”tutup Giriyasa. (dp)

Kamis, 19 Januari 2012

Ketut Sedana Arta, S.Pd, M.Pd.: Sejarah, Sebuah Kisah

Hari sudah menjelang siang saat sesosok lelaki terduduk di balik meja, menulisi sesuatu dengan spidol berwarna hitam. Bersama setumpuk buku, dua buah papan terpampang berdampingan di atas meja kerjanya. Terlihat tulisan “Sekjur Pendidikan Sejarah” di papan pertama, dan terukir sebuah nama “Ketut Sedana Arta, S.Pd, M.Pd.” di papan berikutnya.

Berperawakan sedang dengan tinggi sekitar 170cm, wajah ramah dan senyum yang renyah. Begitulah kesan pertama yang didapat saat pertama kali melihat pria ini. Sedana, begitulah orang-orang biasa memanggilnya, seorang dosen muda berusia 35 tahun yang sudah menjabat sebagai sekretaris jurusan. Melihat karirnya yang cukup sukses, mungkin tidak banyak orang yang tahu bagaimana perjuangan hidupnya.

Mengingat masa lalu, mungkin membuat Sedana sangat mensyukuri hidupnya sekarang. Sedana terlahir di keluarga yang berlatar belakang kurang mampu. Sedana masih ingat keadaan rumahnya dulu yang berlantaikan tanah dan beratap ilalang, temboknya pun hanya terbuat dari bata yang belum dibakar. Namun, hidup dalam keterbatasan ekonomi tak lantas membuat Sedana berhenti bersekolah. Begitulah nilai yang selalu ditanamkan oleh sang kakak, seseorang yang menjadi sosok panutan Sedana. Sosok kakak bagi Sedana sekaligus seperti orang tua. Sang kakak selalu mengarahkan dan mendidik dirinya. “Cara mengatasi kemiskinan adalah dengan pendidikan,”Sedana mengulangi apa yang pernah dikatakan kakaknya padanya dulu. Oleh karena itu tak ada satu pun yang mampu menyurutkan semangatnya dalam menuntut ilmu, termasuk uang.

Berdua bersama adik terbungsunya, Sedana menjajakan lumpia keliling desa. Saat itu Sedana masih SMP. Saat masih di bangku SMA, Sedana muda yang tidak punya uang harus berjalan kaki untuk mencapai sekolah dari rumahnya di Penglatan. Untuk menghemat tenaganya, seringkali Sedana harus bergelantungan di bak truk sampah yang sering melewati sekolahnya. “Meskipun bau tapi yah…terpaksa, daripada jalan kaki,”kenangnya. Pernah Sedana dipulangkan oleh kepala sekolah lantaran SPP yang belum dibayar. Bahkan untuk membeli baju dan celana pun Sedana masih harus mencicil.

Sejarah, Sosiologi, dan Antropologi adalah mata pelajaran favorit Sedana. Jadilah Sedana melanjutkan studi perguruan tingginya di Ilmu Sejarah FKIP Universitas Udayana yang kemudian berubah nama menjadi STKIP Negeri Singaraja. Saat itu Sedana hanya menggantungkan biaya perkuliahannya pada beasiswa. “Karena tuntutan kegiatan kampus, sering saya mandi sembunyi-sembunyi di kampus,”sahutnya sambil terkekeh. “Dulu saya kurus sekali, kalau ditaruh uang logam seratusan di sini mungkin tidak akan jatuh,”kata Sedana sambil menunjuk tulang di lehernya dan tertawa. “Masih ada foto-foto waktu saya kuliah. Tapi kalau saya lihat sekarang, malu saya,”tambahnya dan langsung tertawa mengenang dirinya dulu.

Ada saat yang sangat membuat Sedana berada di puncak kegalauannya. Ketika itu ibu yang sangat disayangi dan dihormatinya terserang struk. Sebagian tubuhnya tidak bisa digerakkan. Betapa bingungnya Sedana saat itu, begitu banyak biaya yang diperlukan di tengah himpitan ekonomi. Namun, dalam keterbatasan fisiknya itu, sang ibu tetap melaksanakan tugasnya sebagai ibu-memasak-meskipun sebagian badannya harus menyeret bagian badan lainnya yang tidak bisa digerakkan. Semangat hidup sang ibu inilah yang menulari Sedana. Terbersit dalam benak Sedana, bagaimanapun sulit hidupnya saat itu, dirinya harus berhasil menamatkan kuliahnya.

Pria kelahiran 35 tahun silam ini mulai menerapkan ilmunya dengan menjadi guru bantu di SMPN 5 Singaraja sekaligus menjadi guru honorer di SMP LAB Undiksha. Sampai akhirnya Sedana dihadapkan pada 2 pilihan untuk memantapkan kariernya. “Waktu itu saya kebingungan, apakah saya harus memilih CPNS di Pemda yang sudah pasti akan diangkat, atau mengikuti seleksi sebagai dosen di Undiksha yang belum pasti terpilih,”tutur penggemar bakso ini.

Mungkin sudah menjadi suratan takdir, Sedana yang dengan berbagai pertimbangan memilih mengikuti seleksi dosen yang peluangnya sangat kecil itu berhasil menyingkirkan pesaing-pesaingnya. Tentu saja pencapaiannya itu harus melalui serangkaian tes, yaitu tes tulis dan tes mengajar. Berbekal pengalaman mengajar selama kurang lebih 6 tahun, tes yang diuji oleh petinggi-petinggi Undiksha terlewati dengan sukses.

Pengalaman mengajar boleh banyak. Namun, bagi bapak satu anak yang hobi hiking ini, mengajar di depan mahasiswa tidak sama seperti mengajar anak-anak SMP. “Kalau mengajar mahasiswa harus menguasai materi secara mendalam, selain itu juga harus menguasai IT,”katanya. Sedana tak enggan mengakui ada beban ketika 15 menit pertama membuka materi. “Keringatan, basah semua seperti keramas,” kelakarnya sembari menunjuk tengkuknya.

Siapa bilang yang muda tidak boleh memangku jabatan penting? Sedana buktinya. Di usianya yang 35 tahun, dosen muda bertitel S2 ini telah diberikan kepercayaan untuk menjabat sebagai sekretaris jurusan. Namun, bukan hidup namanya kalau tanpa pro-kontra. Saat Sedana naik jabatan sebagai sekjur, tidak sedikit rekan-rekannya yang merasa tidak puas. Sedana dianggap masih terlalu muda untuk memangku jabatan sepenting itu. Namun, tipikal pekerja seperti Sedana mensiasatinya dengan selalu berkoordinasi dengan rekan kerja dan bekerja sebaik-baiknya sehingga tidak ada lagi celah untuk kritik hingga perlahan-lahan rasa tidak puas itu akan tereduksi. “Tapi saya tetap menghormati mereka dan menganggap seperti orang tua sendiri, walaupun di belakang saya sering dikritik,”tuturnya.

Pekerjaan sebagai sekjur tidaklah ringan. Malah, seringkali tugas-tugas administrasi yang tak selesai di kampus harus dibawa pulang. Beruntung istrinya adalah seorang yang pengertian, yang mengerti akan tugas suaminya sebagai sekjur. “Kuncinya adalah keterbukaan dan komunikasi. Tidak hanya di rumah tangga, juga dalam pekerjaan,”tandasnya.

Syukur. Itulah hal yang dirasakan Sedana saat ini. Satu prinsip yang selalu dijunjungnya, bekerja dengan sebaik-baiknya berlandaskan kejujuran. “Kalau soal rejeki sudah diatur oleh yang di atas,”tutur pribadi sederhana ini. Dengan jerih payahnya, kini Sedana telah mampu membangun sebuah rumah yang jauh lebih layak dibanding rumahnya semasa kecil dulu. Mengabdikan jasanya untuk bekerja dengan sebaik-baiknya, itulah wujud syukurnya kepada Tuhan.

Kisah masa lalu adalah sebuah sejarah. Sekelam apapun, sesulit apapun, sejarah menjadi bagian penting dari kehidupan sekarang. “Jadikan sejarah itu sebagai pelajaran dan pegangan hidup ke depan. Jangan pernah melupakan sejarah.,’tutup Sedana dengan senyum melengkung di wajahnya.

Eksportir Mandiri yang Berdikari

Seperti mengambil satu bola warna merah dari kotak yang berisi campuran bola merah dan putih. Ketidakpastian membuat seorang enterpreneur harus berani mengambil resiko.

Siang yang panas. Angin semilir menghampiri garasi kecil di rumah kontrakan. Di sanalah Wensislaus Makmur (29) berkutat dengan lembaran-lembaran kulit imitasi. Selama ini ia hanya mengerjakan pesanan tas dari agen atau kliennyanya, baik itu tas karung, tas kulit, atau dompet kulit. “Saya mengerjakan pesanan dari klien, bahannya pun mereka yang ngasi. Saya tinggal buat sesuai dengan maunya mereka. Setelah jadi, klien saya itu yang menjualnya di luar negeri. Ada yang dari Italia, Prancis, Belanda, Amerika, Australia,” terang Makmur di sela-sela deruman sepeda motor yang lewat di gang rumahnya yang sempit.

Begitulah, selama ini kelangsungan hidup Makmur sangat bergantung dengan pesanan dari agen. Bisa dibilang, Makmur bukanlah eksportir sesungguhnya. Belum mandiri, baik dari permodalan maupun pemasaran. Karena bagi Makmur untuk melakukan itu semua, yang ia miliki hanya ‘modal dengkul’.

Kepala Dinas Perdagangan dan Industri Provinsi Bali, Drs. Gede Darmaja, M.Si., berpendapat bahwa pengerajin kita memiliki kesempatan untuk memasarkan produknya ke luar negeri. Hanya saja masalahnya ada pada mainset pengerajin kita yang mudah puas dan tidak berani mengambil resiko, serta lemahnya penguasaan manajemen keuangan dan pemasaran. “Kalau masalah modal, bank-bank di Indonesia bisa menyediakan kredit bagi pengusaha-pengusaha kecil” imbuhnya.

Kenyataannya, banyak eksportir Bali bergantung pada agen untuk memasarkan produknya. Mereka terlalu takut untuk meminjam uang di bank. “Kita pengusaha kecil-kecilan. Mana ada bank yang mau ngasi pinjaman” keluh Makmur.

Memasarkan produk lewat agen tidak selamanya memberi berkah. Sesungguhnya para pengerajin itu tengah dibohongi. Pengerajin hanya menerima rupiah dari agen, sedangkan agen mendapatkan dolar dari cucuran keringat para pengrajin. Tentunya dengan menaikkan harga sekian kali lipat. Sungguh ironis.

Matanya mulai berkaca-kaca mengenang saat ia ditipu mentah-mentah oleh agen. Tampaknya ia tak ingin kejadian yang sama menimpanya kembali. “Saya tahu tempat tinggalnya. Tapi buat apa? Kalau dia merasa punya hutang, silahkan bayar, tapi kalau enggak ya sudah. Saya ikhlasin aja. Apalagi kita ini cuma pengerajin kecil,” ungkap Makmur.

Cahaya menyeruak saat ia kembali melanjutkan memotong kulit imitasi bahan dompet. Ia mengaku terlalu takut mengambil resiko untuk memasarkan produknya sendiri. Tanggungan istri dan anak memaksanya bermain aman. “saya ngga mau terlalu PD (percaya diri-red), aku masih harus ngebiayain istri sama anakku, jadi ya syukurin aja dulu. Yang penting halal” utaranya.

Selama ini kerajinan merupakan penopang hidup keluarga Makmur. Setidaknya hal itu sudah cukup membuat asap dapurnya tetap mengepul. Walaupun dia tidak tahu pasti, apakah dengan profesi ini kelak akan mampu mengangkat derajat hidupnya. (dp)

Wensislaus Makmur : Mutiara yang Tersaput Lumpur

Karung bekas, dianggap tidak berguna dan tidak memiliki nilai jual. Namun siapa sangka karung bekas bisa disulap menjadi barang berharga yang bernilai guna tinggi, bahkan sampai menghiasi pasar ekspor?

Dialah Wensislaus Makmur. Orang yang mampu menyulap barang rongsokan itu menjadi barang yang bernilai guna tinggi. Pria berdarah Flores ini adalah seorang pengrajin tas karung yang karyanya sudah merambah kancah Internasional seperti Prancis, Italia, Belanda, Amerika, dan Australia.

Pendidikan yang dienyam di bangku sekolah tidak selalu sesuai aplikasinya dalam dunia kerja nantinya. Hal inilah yang dialami oleh lelaki berambut ikal yang satu ini. Meskipun menggenggam ijasah lulusan STM (Sekolah Tinggi Mesin), Wensislaus Makmur tak lantas bekerja di bidang usaha yang senada dengan latar belakang pendidikannya itu. Pria berperawakan kecil ini malah menggeluti pekerjaan yang seratus delapan puluh derajat berbeda.

Sebelum menjadi pengrajin tas karung, laki-laki yang lahir 29 tahun silam ini hanyalah seorang pendatang yang ingin mengadu nasib di Bali. “Warna-warni pekerjaan pernah saya lakoni. Mulai dari buruh bangunan, penjaja toko seni di Kuta, dan supervisor di pabrik garmen,” aku Wensislaus. Hingga akhirnya Ancik, sapaannya yang dalam bahasa Flores berarti buruh, berhenti bekerja di pabrik garmen dan memutuskan untuk menerima tawaran temannya untuk menjadi pengrajin tas.

Lingkungan pekerjaan telah berjasa membangun koneksinya. Meskipun tas karung buatannya telah merambah pasar ekspor, Ancik masih sangat tergantung pada agen. “Klien saya yang memberikan modal, dan memasarkannya ke luar negeri,” ujar Ancik sembari mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.

Mengerjakan pesanan dari pagi hingga pagi lagi sudah menjadi hal biasa. Pribadi yang sederhana ini tidak pernah mengeluh dengan rutinitas bak robot. Namun, usahanya tak selalu berbuah keuntungan. Beberapa tahun yang lalu Ancik tertipu mentah-mentah oleh seorang klien. Namun Ancik tidak ingin memperpanjang masalah dengan membawa perkara itu ke meja hijau. “Buat apa? Percuma saja, hanya membuat capek saja. Kalau dia merasa punya hutang sama saya pasti dia membayarnya. Tapi kalau ngga ya ga apa-apa. Saya anggap sebagai pelajaran” kata-kata itu mengalir tulus dari bibir hitamnya. Tangannya kanannya mulai memuntir-muntir rokok, sambil sesekali memainkan korek gas dihadapannya.

Selain membuat tas dari karung beras, Ancik juga membuat tas dan dompet berbahan kulit. Semua itu tergantung pesanan. “Terkadang pesanan tak selalu ada. Kalau sudah begitu, saya menitipkannya di art shop yang ada di seputaran Kuta. Saya juga ngga jarang menerima servis perbaikan sofa kulit” akunya.

Di bawah tumpukan potongan kulit, beberapa helai pola dompet dari kulit berwarna merah menyembul dari sana. Di atasnya tertera merk dagang yang dicetak dengan setrika. “Sebenarnya saya ingin punya brand dan toko sendiri,” harapnya, lalu menghisap rokoknya dalam-dalam. “Kalau boleh saya berharap, saya ingin supaya pemerintah membantu untuk menciptakan pasar untuk pengrajin kecil seperti saya,” imbuhnya. Dia pun menjejalkan rokok di tangannya yang tinggal puntung ke dalam asbak yang hampir penuh. Yang tersisa hanya bau asap di tempat kerjanya yang langsung menghadap gang sempit. (dp)